Sabtu, 02 Juni 2018

Pemikiran Pendidikan Anies Baswedan





A. Biografi Anies Baswedan
            Namanya Anies Rasyid Baswedan Ph.D. Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat 7 Mei 1969. Anies Baswedan merupakan cucu dari AR Baswedan, pejuang pergerakan nasional yang pernah jadi Menteri Penerangan masa awal kemerdekaan Indonesia. Beliau anak pertama Drs. Rasyid Baswedan (Dosen Fak Ekonomi UII) dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid (Dosen Fak Ilmu Sosial, UNY).         Pendidikan Anies Baswedan dimulai dari TK Masjid Syuhada dan melanjutkan ke SD Laboratori, Yogjakarta. Selulus dari SMP Negeri 5 Yogjakarta, Anies Baswedan melanjutkan pendidikannya ke SMA 2 Yogjakarta, beliau terpilih sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Selama menempuh pendidikan menengah atas ini, beliau sempat terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar sisa Indonesia-Amerika yang diselenggarakan AFS[1], 1 tahun SMA-nya di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Beliau kemudian melanjutkan kuliah di UGM.
            Pada 2007, Anies Baswedan menjadi rektor termuda di Indonesia (38 tahun) saat terpilih sebagai Rektor Universitas Paradima[2]. Aines Baswedan menggagas Paradima Fellowship[3]. Program ini merekrut anak-anak terbaik dari mana saja untuk berkuliah di Universitas Paradima secara gratis. Anies Baswedan juga menggagas pengajaran anti korupsi dengan membuat mata kuliah wajib Anti korupsi. Sebelum menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Beliau adalah salah satu tokoh yang sangat peduli terhadap masa depan  republik   ini. Melalui   buku   berjudul “Merawat Tenun Kebangsaan”, Anies Baswedan telah menuangkan gagasannya terkait persoalan yang sedang dihadapi republik ini. Ada tiga isu besar yang ia tuangkan dalam karya barunya, yaitu masalah kepemimpinan, demokrasi dan terakhir pendidikan. Terkait persoalan kepemimpinan, Anies Baswedan mengatakan bahwa negeri ini butuh pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo[4] yang merugikan rakyat, berani bertarung melunasi semua janjinya[5].


B. Latar Belakang Pemikiran Anies Baswedan
            Konsep pemikiran Anies Baswedan dilatarbelakang dari masalah bagaimana caranya agar pendidikan dapat merata ke pelosok nusantara. Setelah melakukan perenungan maka lahirlah ide gerakan Indonesia Mengajar. Menurut Anies, pendidikan adalah kunci untuk meraih perubahan. Pendidikan di Indonesia punya banyak pekerjaan rumah, mulai dari perbaikan nasib guru, perbiakan kualitas guru, dam perbaikan kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Bagi Anies hal terpenting sebelum itu adalah memberikan pendidikan berkualitas kepada setiap warga negara Indonesia baik yang kaya dan miskin, di kota dan desa, pemeluk agama dari suku manapun, serta yang tinggal di provinsi mana saja tanpa terkecuali. Anies percaya bahwa SDA bukanlah kekayaan utama Indonesia. Kekayaan bangsa indonesia terletak pada manusia Indonesia itu sendiri. Jika manusia terdidik, tercerdaskan, dan tercerahkan, maka orang Indonesia akan sejahtera dan dapat mendominasi dunia[6].
            Gerakan Indonesia Mengajar diinspirasi proses panjang yang dibangun Anies selama bertahun-tahun. Prosesnya merupakan gabungan dari berbagai alasan. Pertama, pelajaran dari berbagai generasi. Kedua, perjalanan aktivitas pengabdian maupun interaksi denagn berbagai masyarakat. Ketiga, pengetahuan modern yang dipetik dari dunia akademis global. Semua proses tersebut, membentuk ide besar gerakan Indoensia Mengajar. Proses untuk mendesain dan mengembangkan konsep Indonesia Mengajar dimulai pada akhir 2009. Awalnya hanya tim kecil yang dibentuk, dan selanjutnya berkembang menjadi organisasi seperti sekarang.
            Visi Gerakan Indonesia Mengajar diinspirasi oleh janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia dipenuhi oleh anak muda yang tulus mangabdi menjadi guru selama waktu tertentu di daerah, menularkan optimisme, menebar inspirasi, dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput[7]. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajarr untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan bangsa. Kehadiran dan kehidupan anak-anak muda itu di sekolah, desa, dan keluarga baru mereka di pelosok nusantara diharapkan dapat merjaut tenun kebangsaan yang lebih kokoh. Harapannya, kelak di Indonesia akan lahir para pemimpin baru yang memiliki kompetensi kelas dunia yang memahami persoalan masyarakat di akar rumput. Para pemimpin itu lahir dari anak-anak muda terbaik di generasinya yang diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, bekerja dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di segala penjuru, termasuk di daerah terpencil[8].


C. Konsep Pendidikan

            Setelah menjabat sebagai menteri pendidikan, Anies mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia pada hakikatnya berada pada posisi sudah sangat gawat. Ketika dilihat dari jumlah sekolah, mahasiswa dan sarana pendidikan lainnya sejak era kemerdekaan tampak meningkat dan berprestasi secara kuantitas. Seiring dengan perihal tersebut Anies memiliki kekhasan pemikiran diantaranya[9]:
Pertama, melunasi janji kemerdekaan. Menurut Anies memperoleh kesempatan pendidikan dan peran global merupakan salah satu janji atas kemerdekaan RI. Karena sifatnya bukan sebatas cita-cita tetapi lebih dipahami sebagai janji maka sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum terlunasi janji kemerdekaannya. Perihal ini tampak pada belum meratanya pendidikan diperoleh setiap anak bangsa. Bagi Anies pelunasan janji itu tidak hanya tanggung jawab konstitusional negara dan pemerintah melainkan tanggung jawab moral setiap anak bangsa yang telah mendapat pelunasan janji yakni telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan[10]. Untuk melunasi janji kemerdekaan tersebut, maka Anies Baswedan memiliki beberapa pemikiran dan inisiatif yang is wujudkan dengan beberapa pihak yang bersama-sama bersedia turun tangan. Selain  aspek  pendidikan,  salah  satu  janji  kemerdekaan  yang  banyak  mendapat perhatian saat ini adalah soal janji perlindungan untuk setiap warga negara. Hal ini terkait dengan beberapa tindakan yang mendiskriminasikan minoritas. Menurut Anies Baswedan Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara.la mengilustrasikan Republik ini sebagai sebuah tenun kebangsaan yang dirajut dari kebhinekaan  suku,  adat,  agama,  keyakinan,  bahasa,  geografis  yang  sangat  unik. Kekerasan atas nama apapun akan merusak tenun tersebut. Dalam soal perlindungan terhadap warga negara atas kekerasan yang kerap terjadi menurut Anies Baswedan dilihat sebagai warga negara menyerang warga negara lainnya, terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Menurutnya negara tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warga negaranya. Namun, negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Dialog antar pemikiran setajam apapun boleh, namun begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukum.
Kedua, pendidikan sebagai eskalator ekonomi. Menurut Anies saat  ini pendidikan menjadi eskalator sosial ekonomi masyarakat Indonesia bahwa naiknya status sosial ekonomi seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan tinggi yang dimilikinya. Akan tetapi karena mahalnya biaya pendidikan dan terbatasnya jenjang perguruan tinggi berdampak pada tidak bisa dinaikinya eskalator ini. Atas permasalahan tersebut, Anies Baswedan menelurkan beberapa inisiatif pendidikan yang menciptakan perubahan positif di masyarakat.
Diantara beberapa inisiatif Anies adalah sebagai berikut:
1.      Indonesia Menyala
            Program Indonesia Menyala pertama kali diluncurkan pada 15 April 2011. Program ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan mayoritas masyarakat     Indonesia yang masih kekurangan bahan bacaan yang bermutu. Sehingga             perlu    membangun perpustakaan-perpustakaan yang bertempat di wilayah             penempatan pengajar muda. Adapun perpustakaan Indonesia Menyala       terdiri dari dua bentuk yakni perpustakaan tetap dan perpustakaan   berputar. Perpustakaan tetap yaitu perpustakaan yang berisikan buku yang              hanya  digunakan  di  satu  sekolah  penempatan. Sedangkan,    perpustakaan berputar, berbentuk sebuah tas yang dibawa keliling oleh             Pengajar Muda untuk dibaca oleh masyarakat sekitar. Program Indonesia    Menyala menghilangkan sekat besar akses terhadap bacaan yang terbatas     pada masyarakat masyarakat pedesaan di Indonesia, sehingga semakin             meneguhkan bahwa pendidikan adalah hak yang harus diterima setiap        masyarakat[11].
2.      Menciptakan Kelas Inspirasi
            Kelas inspirasi adalah sebuah program pendidikan dengan mengundang      para profesional sukses karena pendidikannya, untuk berbagi cerita dan        pengalaman kerja selama satu hari. Tujuan program ini tidak lain untuk             membekali peserta didik belajar dari secara langsung dari para profesional   sukses serta efek balik dari para profesional khususnya kelas menengah          untuk memahami realita dan fakta kondisi pendidikan kita. Kelas inspirasi           juga tampaknya menjadi agenda silaturahmi antara sekolah dengan para      profesional kelas menengah. Sehingga diharapkan melalui kegiatan itu            mampu mendorong peran aktif kalangan profesional dalam dunia    pendidikan.
3.      Menciptakan program Indonesia Mengajar.
            Program Indonesia Mengajar pada hakikatnya dilandasi oleh semangat       janji kemerdekaan RI sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945             yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena hingga saat ini masih   banyak masyarakat Indonesia   yang   belum   menikmati   pendidikan         yang   disebabkan   atas   tidak terdistribusinya pendidik yang tidak     merata. Selain itu, program ini juga bertujuan mengirimkan anak-anak             muda terbaik bangsa yang disebut sebagai Pengajar Muda (PM) untuk        mengajar selam.a satu tahun di Sekolah Dasar di desa-desa terpencil di         penjuru negeri. Tak hanya mengajar para PM juga berinteraksi langsung             dengan pemangku  kepentingan  di  daerah  dan  masyarakat.          Selanjutnya  program-ini  juga bertujuan menciptakan calon pemimpin yang memiliki pemahaman akar rumput dan kompetensi global.       Pentingnya program tersebut sejak tahun Indonesia Mengajar telah         memberangkatkan lebih dari 200 PM ke 17 kabupaten yang tersebar dari        barat sampai timur Indonesia[12].
4.      Pemikiran tentang Kualitas Manusia Indonesia
            Menurut Anies garda terdepan untuk mernperoleh kemenangan bukan        ditentukan oleh Sumber Daya Alam semata. Tetapi kualitas manusia. Ia       menggunakan istilah kualitas manusia bukan kualitas sumber daya             manusia. Hal tersebut dikarenakan manusia Indonesia tidak boleh   dipandang semata-mata sebagai sumber daya. Kualitas manusia  ini  hanya      bisa  diraih  lewat  pendidikan  yang  berkualitas.  Pendidikan berkualitas   itu sebab utamanya bukan karena gedung, buku, kurikulum atau bahasa            yang berkualitas. Untuk mendorong hal tersebut menurutnya   kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang            menggerakkan manusia Indonesia. Kepemimpinan yang menginspirasi,          bukan mendikte. Kepemimpinan yang bersifat patron-client  tidak  lagi        cocok  untuk  kondisi  Indonesia  saat  ini.  Yang  lebih  cocok menurut      Anies adalah kepemimpinan yang mampu membuat orang bergerak, turun            tangan dann berkontribusi untuk menyelesaikan masalah.
5.      Pemahaman Akar Rumput dan Kompetensi Global
            Salah satu janji kemerdekaan adalah janji berperan dalam tingkat global.     Menurut Anies Baswedan dahulu pada saat Sumpah Pemuda misalnya seorang Jawa atau Sunda menjadi Indonesia tanpa kehilangan Jawa atau         Sundanya, sekarang kesadaran seperti itu  adalah  bahwa  kita  juga  warga             dunia.  Menurutnya  kesadaran  yang  saat  ini diperlukan adalah kesadaran          melampaui Indonesia (beyond Indonesia). Kepada para mahasiswa Anies         sering mengatakan kompetitor mereka bukan lagi dari Universitas yang       berada di negeri ini. Kompetitor mahasiswa itu adalah lulusan Melbourne,     AS, Tokyo, dan lain-lain yang memiliki kemampuan bahasa, ilmu    pengetahuan, dan jaringan internasional. Menurutnya yang penting untuk   dimiliki saat ini adalah kompetensi yang bersifat global dan pemahaman      akan permasalahan akar rumput yang nyata terjadi di masyarakat. Istilah y   ang kerap ia kemukakan adalah grass roots understanding and world class compotences[13]
6.      Pendidikan Antikorupsi
            Menurut  Anies  budaya  anti  korupsi  tepat  untuk  dimulai  ,dari  dunia    pendidikan. Proses ini dapat dilakukan melalui upaya penanaman nilai anti            korupsi oleh guru saat proses belajar mengajar di sekolah[14]. Melalui            program ini guru sebagai pengajar bertugas sebagai sumber teladannya.       Dengan keteladanan diharapkan mampu mencerminkan sikap anti korupsi            bagi peserta didik. Selain keteladanan, membangun budaya anti korupsi j   uga bisa dilakukan dengan cara-cara yang inovatif dan kreatif namun tetap             menyenangkan.[15]
            Selain pemikiran di atas, terdapat pemikiran pendidikan lain yang lain yang masih hangat dibenak banyak orang, yakni Anis sebagai menteri Pendidikan  dan  Kebudayaan  yang  baru  melakukan  langkah  cerdas, salah satunya:
Biarkan kurikulum 2013 berjalan secara lentur, Dalam pengolahan dan pelaporan hasil evaluasi, sekolah yang memang sudah memiliki perangkat T'I yang memadai, terapkan kurikulum 2013. Sekolah yang belum memiliki perangkat TI, pengolahan nilai dan sistem pelaporan bisa menggunakan cara manual, seperti cara pada KTSP. Kurikulum 2013 secara filosofis pada hakikatnya memiliki landasan yang kuat. Karena kurikulum 2013 memang dirancang untuk mempersiapkan generasi emas serta mengantisipasi berkembangnya TI yang telah melanda masyarakat dan tentu saja melanda dunia pendidikan. Akan tetapi implementasi kurikulum 2013 ini dilakukan secara tergesa-gesa karena baru diluncurkan menjelang akhir jabatan Muhammad Nuh. Adapun perangkat TI dan semacamnya tampaknya belum dipersiapkan kelengkapannya di tiap sekolah. Padahal kurikulum 2013 ini penekanannya pada belajar mandiri dan pemanfaatan TI[16].




D. Kesimpulan
            Anies Rasyid Baswedan Ph.D. Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat 7 Mei 1969. Anies Baswedan merupakan cucu dari AR Baswedan, pejuang pergerakan nasional yang pernah jadi Menteri Penerangan masa awal kemerdekaan Indonesia. Beliau anak pertama Drs. Rasyid Baswedan (Dosen Fak Ekonomi UII) dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid (Dosen Fak Ilmu Sosial, UNY). Sebelum menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Beliau adalah salah satu tokoh yang sangat peduli terhadap masa depan  republik   ini. Melalui   buku   berjudul “Merawat Tenun Kebangsaan”, Anies Baswedan telah menuangkan gagasannya terkait persoalan yang sedang dihadapi republik ini.
            Konsep pemikiran Anies Baswedan dilatarbelakang dari masalah bagaimana caranya agar pendidikan dapat merata ke pelosok nusantara. Setelah melakukan perenungan maka lahirlah ide gerakan Indonesia Mengajar. Menurut Anies, pendidikan adalah kunci untuk meraih perubahan. Pendidikan di Indonesia punya banyak pekerjaan rumah, mulai dari perbaikan nasib guru, perbiakan kualitas guru, dam perbaikan kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Bagi Anies hal terpenting sebelum itu adalah memberikan pendidikan berkualitas kepada setiap warga negara Indonesia baik yang kaya dan miskin, di kota dan desa, pemeluk agama dari suku manapun, serta yang tinggal di provinsi mana saja tanpa terkecuali. Anies percaya bahwa SDA bukanlah kekayaan utama Indonesia.
            Anies memiliki kekhasan pemikiran diantaranya :Pertama, melunasi janji kemerdekaan dan kedua, pendidikan sebagai eskalator ekonomi. Anies Baswedan menelurkan beberapa inisiatif pendidikan yang menciptakan perubahan positif di masyarakat. Diantara beberapa inisiatif Anies adalah sebagai berikut:
1.      Indonesia Menyala
2.      Menciptakan Kelas Inspirasi
3.      Menciptakan program Indonesia Mengajar.
4.      Pemikiran tentang Kualitas Manusia Indonesia
5.      Pemahaman Akar Rumput dan Kompetensi Global
6.      Pendidikan Antikorupsi












Daftar Pustaka

Anis     Baswedan,     Budaya     Anti     Korupsi     di     Mulai     dari     Sekolah.     www. Republika.co.id.diakses tanggal 10 Mei  2018 pukul 18:45
Aziz, Safrudin. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogjakarta : Kalimedia
Gun, Gun Heriyanto dan Iding Rosyidin. 2015. 10 Tokoh Transformatif Indonesia. Jakarta : Penerbit Erlangga
Kompas, 28 Oktober 2009. Kesadaran Melampaui Indonesia
Sumanto, Edi.  Relavansi Pendidikan Islam.  Jurnal At-Ta’lim Vol. 15, No. 2, Juli 2016
Tentang Indonesia Mengajar, http://www.indonesiamengajar.org (diakses tanggal 10 Mei 2018 pukul 17:53


[1] AFS Intercultural Program, Inc. adalah suatu organisasi non-governmental dan non-profit berbasis internasional yang menjadi wadah untuk memberikan kesempatan bagi para siswa yang ingin belajar dan memahami lebih jauh mengenai perbedaan budaya dengan tujuan untuk menciptakan perdamaian dunia.  Melalui organisasi ini, para siswa akan dikirimkan ke berbagai negara untuk tinggal selama kurang lebih satu tahun bersama host family dan belajar di sekolah lokal. Tidak hanya itu, para siswa yang dikirim untuk program ini juga diharapkan dapat mempromosikan budaya serta nilai-nilai dari negara asalnya. Negara tujuan program AFS ini sangat beragam, mulai dari Negara-negara di benua Asia, Eropa, hingga Amerika.
[2] Univesitas yang didirikan oleh almarhum Prof. Dr Nurcholis Majid (Cak Nur).
[3] Suatu beasiswa dimana  merekrut anak-anak terbaik dari mana saja untuk berkuliah di Universitas Paradima secara gratis
[4] Serangkaian upaya untuk mempertahankan kekuasaan pimpinan. Cara yang ditempuh bisa dengan mempertahankan diri sebagai seorang pemimpin atau bisa juga dengan mempersiapkan kader atau pihak-pihak lainnya yang sejalan dengan tujuan si pemimpin.
[5] Gun Gun Heriyanto dan Iding Rosyidin, 10 Tokoh Transformatif Indonesia, hal 8-10
[6] Gun Gun Heriyanto dan Iding Rosyidin, 10 Tokoh Transformatif Indonesia, hal 12
[7] Akar rumput (terhitung) (idiomatik) Orang dan masyarakat di tingkat lokal (paling dasar) tingkat daripada di pusat nasional kegiatan politik Landasan penting atau sumber sesuatu
[8] Ibid hal 13
[9] Safrudin Azis, Pemikiran Pendidikan Islam.....hal 328
[10] Ibid hal 328
 Tentang Indonesia Menyala
 Tentang Indonesia Menyala
[13] Pemahaman akar rumput dan kompetensi tingkat dunia
[14] Kompas, 28 Oktober 2009. Kesadaran Melampaui Batas
[15] Anies, Baswedan, Budaya Anti Korupsi di Mulai dari Sekolah, www. Republika.co.id.
[16] Edi Sumanto, Relavansi Pendidikan Islam, hal 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar